
Oleh: M. Zhaharil Fikri, S.Pd.I., M.Pd.
Kemenag (MIN 1 Merangin) : Kita sering bangga mengatakan bahwa madrasah adalah tempat membentuk generasi berakhlak. Kita memasang poster tentang kejujuran, mengajarkan nilai-nilai antikorupsi, berbicara tentang amanah, dan mengingatkan peserta didik agar tidak mencontek. Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting dan mungkin tidak nyaman untuk dijawab: Apakah budaya yang dibangun di madrasah benar-benar sudah mencerminkan nilai yang kita ajarkan?
Inilah persoalan yang sering luput ketika kita berbicara tentang pendidikan antikorupsi. Pendidikan antikorupsi terlalu mudah dipersempit menjadi materi pembelajaran. Peserta didik diberi definisi korupsi, menghafalkan nilai-nilai antikorupsi, mengerjakan tugas, kemudian selesai. Padahal korupsi bukan sekadar persoalan pengetahuan. Korupsi berkaitan dengan karakter, kebiasaan, kesempatan, keteladanan, sistem, dan keberanian mengambil keputusan yang benar.
Jangan ajarkan kejujuran dengan cara yang tidak jujur. Kita meminta anak jujur, tetapi apakah seluruh proses pendidikan memberi ruang yang cukup bagi kejujuran? Kita meminta anak bertanggung jawab, tetapi apakah orang dewasa di sekelilingnya selalu menunjukkan tanggung jawab? Kita meminta anak disiplin, tetapi apakah aturan berlaku konsisten untuk semua?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mencari siapa yang salah. Justru pertanyaan itu penting agar pendidikan antikorupsi tidak menjadi sekadar nilai yang dituntut dari anak, tetapi juga menjadi budaya yang dipraktikkan oleh orang dewasa. Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi dari apa yang dilakukan orang dewasa.
Kita tidak kekurangan slogan tentang integritas. Poster kejujuran ada. Kata-kata tentang amanah ada. Seruan antikorupsi ada. Materi pembelajaran juga tersedia. Yang sering menjadi persoalan adalah jarak antara nilai yang diucapkan dengan perilaku yang dilakukan.
Karena itu, madrasah harus menjadi laboratorium integritas. Peserta didik tidak cukup diberi tahu bahwa jujur itu baik. Mereka harus diberi kesempatan untuk mengalami dan mempraktikkan kejujuran. Tidak cukup mengatakan bahwa bertanggung jawab itu penting. Mereka harus diberi amanah dan belajar mempertanggungjawabkannya.
Pendidikan antikorupsi juga tidak boleh berhenti di ruang kelas. Budaya integritas harus tercermin dalam pengelolaan madrasah: penggunaan anggaran, pengelolaan fasilitas, pelayanan, pembagian tugas, administrasi, dokumentasi, hingga pengambilan keputusan. Semuanya perlu dibangun dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab.
Guru dan pimpinan madrasah memiliki posisi yang sangat menentukan. Satu tindakan nyata sering kali lebih kuat daripada puluhan nasihat. Ketika guru konsisten, peserta didik belajar konsistensi. Ketika guru jujur, peserta didik melihat kejujuran sebagai sesuatu yang nyata. Ketika pimpinan transparan dan bertanggung jawab, peserta didik belajar bahwa integritas bukan sekadar teori.
Sudah saatnya keberhasilan pendidikan antikorupsi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, poster, atau sosialisasi. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan perilaku: apakah siswa semakin jujur, berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab, menghargai hak orang lain, dan mampu menolak kecurangan ketika ada kesempatan?
Pendidikan antikorupsi bukan proyek untuk terlihat baik. Ia adalah proses panjang untuk membangun manusia yang tetap memilih benar ketika tidak ada yang mengawasi. Generasi antikorupsi tidak lahir dari slogan, tetapi dari lingkungan yang setiap hari memperlihatkan bahwa kejujuran dihargai, tanggung jawab dijalankan, dan integritas dipraktikkan.
Maka pertanyaan terbesar pendidikan antikorupsi bukanlah, Sudah berapa banyak materi antikorupsi yang kita ajarkan? Melainkan, Sudahkah madrasah menjadi tempat di mana kejujuran benar-benar hidup?
Jika belum, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, bercermin, dan mulai membenahi diri. Karena sebelum mengajarkan anak untuk melawan korupsi, kita harus memastikan bahwa lingkungan tempat mereka belajar tidak justru mengajarkan toleransi terhadap ketidakjujuran. (Red)
Sumber : fikrilasal.blokspot.com
|
50x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...