
Kemenag (MIN 1 Merangin): Harapan baru mulai menampakkan wujudnya di halaman MIN 1 Merangin. Rencana pembangunan tiga ruang belajar baru yang digagas madrasah kini resmi bergerak dari angan menuju aksi nyata. Meskipun sumber dana sepenuhnya bersumber dari infaq tulus guru dan pegawai, langkah pertama pembangunan sudah dipancangkan. Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap masa depan anak bangsa menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan proyek mulia ini. Di tengah keterbatasan, MIN 1 Merangin memilih bergerak, karena menunggu sempurna berarti menunda lahirnya generasi cerdas.
Pantauan awak Humas MIN 1 Merangin pada Sabtu, 06 Juni 2026 tepat pukul 16.50 WIB, memperlihatkan pemandangan yang menggetarkan hati. Truk demi truk mulai membongkar material di arena lokasi pembangunan. Tumpukan pasir dan batu untuk pondasi kini telah tiba dan tersusun rapi, siap menjadi cikal bakal fondasi ilmu. Suara mesin dan langkah kaki panitia mengisi sore sabtu, tampak sosok bapak ujang Mukhlis, S.Pd.I yang ikhlas meluangkan waktu libur sabtunya mengontrol material yang datang ke madrasah. Hal ini menandai dimulainya babak baru perjuangan madrasah. Material sederhana ini bukan sekadar pasir dan batu, melainkan butir-butir harapan yang akan menopang langkah ratusan siswa ke depan.
Kebutuhan ruang belajar di MIN 1 Merangin memang mendesak dan tak bisa ditunda. Dengan jumlah siswa yang terus meningkat setiap tahunnya, madrasah saat ini masih kekurangan 10 ruang kelas. Kondisi ini memaksa siswa belajar bergantian dan memadati ruang yang ada. Melihat kenyataan itu, panitia yang dibentuk langsung oleh Kepala Madrasah mengambil inisiatif berani: membangun pondasi untuk tiga ruang belajar darurat terlebih dahulu. Tiga ruang mungkin belum menjawab semua kebutuhan, tapi tiga ruang berarti ratusan jam belajar yang lebih layak bagi anak-anak yang haus ilmu.
Ketika ditanya berapa total dana yang dibutuhkan, salah satu panitia yang enggan disebut namanya menjawab dengan kalimat yang sederhana namun penuh makna. Kita mencoba dengan dana seminim mungkin, ujarnya. Target tahap awal sangat realistis: dalam 1 bulan ke depan, pondasi dan atap harus sudah berdiri. Untuk dinding dan finishing, panitia masih menunggu terkumpulnya dana tambahan. Strategi ini dipilih agar pembangunan tidak terhenti di tengah jalan. Selangkah demi selangkah, satu bata demi satu bata, hingga atap itu benar-benar menaungi kepala siswa saat menimba ilmu.
Yang membuat proyek ini luar biasa bukan hanya bangunannya, tapi sumber dananya. Dana awal pembangunan ruang belajar darurat 100% berasal dari infaq guru dan pegawai MIN 1 Merangin. Mereka rela menyisihkan gaji ke-13 nya demi anak didik. Ada yang berinfaq Rp500 ribu, ada yang Rp700 ribu, ada yang Rp800 ribu, dan ada pula yang tanpa ragu menyerahkan Rp1 juta. Yang lebih menyentuh lagi, beberapa guru dan pegawai memilih berinfaq dalam bentuk material seperti semen dan pasir. Air mata haru rasanya melihat para pendidik yang seharusnya menerima, kini justru memberi paling depan demi kenyamanan muridnya.
Semua pengorbanan ini lahir dari satu sebab: tingginya minat masyarakat Merangin untuk menyekolahkan anaknya di MIN 1 Merangin. Kepercayaan publik yang besar itu menjadi cambuk bagi seluruh guru dan pegawai. Mereka merasa terpanggil untuk beramal jariyah, menyisihkan rezeki agar madrasah tempat mereka mengabdi bisa terus melayani dengan layak. Bagi mereka, membangun ruang kelas bukan sekadar proyek fisik, tapi investasi pahala yang mengalir panjang. Setiap anak yang duduk di ruang itu, setiap ayat yang dibaca, setiap rumus yang dipahami, akan menjadi catatan amal bagi para dermawan di dalamnya.
Bapak M.Said, S.Pd.I selaku Ketua Panitia Pembangunan menyampaikan himbauan hangat kepada seluruh pihak. Kami mengundang para dermawan yang peduli pendidikan, perusahaan swasta, alumni, dan masyarakat luas untuk turut mendukung pembangunan madrasah ini, ucapnya. Beliau berharap sedikit kepedulian hari ini akan menjawab kegelisahan kekurangan ruang belajar, sehingga generasi harapan bangsa bisa menimba ilmu dengan tenang, nyaman, dan bermartabat. Pondasi sudah mulai, atap akan menyusul. Kini giliran kita semua yang ikut menjadi penyangga dindingnya. Karena mendidik anak adalah kerja bersama, dan masa depan Merangin dimulai dari tiga ruang kelas sederhana ini. (Afrial Dianon)
Redaktur/ Editor : Irman
Jurnalis : Raden, Afdal, Afrial, Hasimah, Mardiah
#Kemenag
#KanwilKemenagJambi
#MIN1Merangin
Humas MIN 1 Merangin,
Media Terdepan & Terpercaya
|
194x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...