
Kemenag ( MIN 1 Merangin) : Suasana di MIN 1 Merangin tampak berbeda dari biasanya, selasa 23 September 2026. Di luar gerbang madrasah, hujan lebat yang mengguyur Kota Bangko sejak dini hari menyebabkan kemacetan panjang dari Simpang hingga ke depan gerbang, namun di dalam lingkungan madrasah, aktivitas tetap berjalan dengan penuh semangat dan dedikasi. Di salah satu ruang kelas, Tim Sarana dan Prasarana (SAPRAS) terlihat sedang berjibaku dengan peralatan perkakasnya, fokus memperbaiki deretan kursi dan meja belajar siswa yang rusak, sebuah pemandangan yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap kenyamanan belajar anak-anak.
Hal ini sebagaimana dibenarkan oleh Koordinator Bidang Sarana dan Prasarana MIN 1 Merangin, Ibu Hj. Faridah Ainun, S.Pd.I. Beliau menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh timnya bukanlah kegiatan yang bersifat insidental atau hanya ketika ada laporan saja, melainkan sebuah program kerja yang rutin dan berkelanjutan. Tim Sapras terus menyisir setiap ruang kelas, dari kelas 1 hingga kelas 6, untuk mendata dan memeriksa satu per satu kursi dan meja yang mengalami kerusakan, mulai dari baut yang longgar, kaki kursi yang goyang, hingga dudukan yang patah, untuk segera diperbaiki di tempat.
Menurut Ibu Hj. Faridah Ainun, S.Pd.I langkah proaktif ini diambil dengan satu tujuan utama yang sangat mulia, yaitu untuk menjaga keselamatan dan keamanan seluruh siswa-siswi MIN 1 Merangin. Dengan perbaikan bagi kursi dan meja belajar yang rusak, maka dapat mengurangi dan bahkan mencegah terjadinya kecelakaan bagi siswa yang memanfaatkannya setiap hari dalam proses belajar mengajar. Kursi yang goyang atau meja yang tidak stabil sangat berisiko membuat siswa terjatuh, terjepit, atau terluka, sehingga perbaikan cepat adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.
"Kasihan anak-anak, kalau kursinya tidak diperbaiki," ujar Ibu Hj. Faridah Ainun dengan nada penuh keibuan dan kepedulian yang mendalam. Kalimat sederhana tersebut menggambarkan betapa besar rasa empati beliau terhadap para peserta didik. Bagi beliau, melihat anak-anak belajar dengan kursi yang rusak dan tidak layak adalah sesuatu yang tidak tega untuk dibiarkan. Setiap anak berhak mendapatkan fasilitas belajar yang aman, nyaman, dan layak, karena kenyamanan fisik akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan semangat mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan oleh bapak dan ibu guru di kelas.
Lebih lanjut, beliau menambahkan sebuah kebijakan yang sangat bijak dan patut menjadi contoh bagi semua, yaitu "lebih baik perbaiki daripada beli baru, mengingat keterbatasan dana dan program efisiensi anggaran secara nasional". Pernyataan ini menunjukkan kebijaksanaan dan kemampuan manajerial yang luar biasa di tengah kondisi anggaran pendidikan yang sedang dilakukan efisiensi di seluruh Indonesia. Daripada harus mengajukan pengadaan kursi dan meja baru yang tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar dan proses yang panjang, maka memperbaiki kursi yang masih bisa diperbaiki adalah solusi yang jauh lebih cerdas, hemat, dan cepat.
Kebijakan efisiensi ini tidak berarti mengurangi kualitas pelayanan, justru sebaliknya, ini adalah wujud dari kreativitas dan tanggung jawab dalam mengelola anggaran negara. Dengan memperbaiki kursi yang rusak, dana madrasah yang terbatas bisa dihemat dan dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak, seperti untuk pengadaan media pembelajaran, buku-buku perpustakaan, atau untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler siswa agar lebih berprestasi. Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana cara mengelola keterbatasan menjadi sebuah kekuatan dan keberkahan bagi semua pihak.
Aksi sigap yang dilakukan oleh Tim SAPRAS ini pun mendapatkan sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari para wali kelas dan siswa. Para wali kelas seperti Ibu Despalena, S.Pd.I dari kelas 2 C dan Bapak Reflizar, S.Pd.I dari kelas 3 A yang selama ini kompak menjaga kelas moping agar tetap Rapi & Bersih, kini merasa sangat terbantu dengan adanya perbaikan sarana ini. Para siswa pun terlihat sangat bahagia dan lebih semangat belajar ketika kursi dan meja mereka sudah kembali kokoh, tidak berderit, dan tidak goyang lagi, sehingga mereka bisa duduk dengan tenang dan fokus mendengarkan pelajaran.
Semoga semangat SAPRAS yang tanggap, peduli, dan solutif ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi seluruh warga MIN 1 Merangin. Dari perbaikan kursi yang sederhana ini, kita belajar bahwa kepedulian tidak harus selalu dengan hal-hal yang besar dan mahal, tetapi bisa dimulai dari hal kecil yang berdampak besar bagi keselamatan dan kenyamanan anak-anak kita. Terima kasih kepada Ibu Hj. Faridah Ainun, S.Pd.I dan seluruh Tim SAPRAS MIN 1 Merangin yang telah bekerja dengan ikhlas, sigap, dan penuh tanggung jawab demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan membahagiakan untuk seluruh siswa. (IR)
Kontributor Humas-Irman
|
42x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...