
Dari Instrumen 24 Butir Menuju Budaya Perbaikan Mutu di Madrasah
Oleh: M. Zhaharil Fikri, S.Pd.I., M.Pd.
Kemenag (MIN 1 Merangin) : Supervisi pembelajaran sering kali dipahami sebatas kegiatan melihat proses mengajar, memberi nilai, lalu menyimpan hasilnya dalam sebuah berkas. Cara pandang seperti ini perlu kita ubah. Supervisi seharusnya menjadi instrumen penting untuk melihat mutu pembelajaran secara nyata, menemukan kekuatan guru, mengenali bagian yang masih perlu diperbaiki, dan memastikan ada tindak lanjut yang jelas.
Pengalaman menyelesaikan supervisi pembelajaran di MIN 1 Merangin menunjukkan bahwa pekerjaan supervisi bukan pekerjaan administratif semata. Ketika 49 guru harus disupervisi, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat instrumen, tetapi bagaimana memastikan instrumen mudah digunakan, penilaian konsisten, hasil tercatat rapi, dan data dapat dimanfaatkan untuk pembinaan.
Instrumen supervisi kemudian disusun dalam 24 butir yang dikelompokkan ke dalam 8 indikator utama: telaah administrasi perangkat pembelajaran; kesesuaian tujuan dan materi dengan kurikulum serta SOP; penggunaan metode pembelajaran; pengelolaan kelas; penggunaan media atau alat bantu; interaksi guru dan peserta didik; penilaian atau asesmen proses pembelajaran; serta penutup, refleksi, dan tindak lanjut.
Pembagian tersebut penting karena kualitas pembelajaran tidak dapat dilihat dari satu sisi saja. Perangkat yang lengkap belum tentu menjamin interaksi belajar yang efektif. Sebaliknya, komunikasi yang baik tetap membutuhkan perencanaan, asesmen, dan tindak lanjut yang tertata. Supervisi harus melihat pembelajaran sebagai satu kesatuan.
Sistem penilaian S4 Sangat Baik/Melebihi Ekspektasi, S3 Baik/Sesuai Ekspektasi, S2 Cukup/Perlu Penguatan, dan S1 Perlu Pembinaan juga seharusnya tidak diperlakukan sebagai label terhadap guru. Nilai bukan tujuan akhir. Nilai adalah informasi yang harus diterjemahkan menjadi pembinaan.
Jika seorang guru memperoleh S2, pertanyaan yang paling penting bukan �mengapa nilainya rendah?�, melainkan �dukungan apa yang diperlukan agar praktik pembelajarannya menjadi lebih baik?�. Begitu pula ketika guru memperoleh S4, hasil tersebut tidak berhenti pada angka. Praktik baiknya dapat menjadi bahan berbagi dan inspirasi bagi guru lain.
Tindak lanjut harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari supervisi. Guru dengan capaian sangat baik dapat berbagi praktik baik. Guru yang sesuai ekspektasi perlu tetap diperkuat dan dipantau. Guru yang memerlukan penguatan dapat memperoleh pendampingan, diskusi sejawat, observasi ulang, atau pengembangan profesional. Guru yang memerlukan pembinaan intensif membutuhkan rencana perbaikan, pendampingan, observasi ulang, dan evaluasi.
Pengalaman ini juga menunjukkan pentingnya teknologi yang sederhana dan tepat guna. Aplikasi supervisi tidak harus rumit. Yang dibutuhkan adalah alat yang membantu pekerjaan menjadi lebih sederhana: data guru diisi pada FORM, hasil 24 butir menghasilkan 8 indikator, kemudian rekap menampilkan total skor, nilai, kategori, dan tindak lanjut. Dengan demikian, waktu tidak habis untuk pekerjaan administratif dan dapat lebih banyak digunakan untuk analisis serta pembinaan.
Teknologi harus mengikuti kebutuhan pengguna, bukan sebaliknya. Sistem yang terlalu rumit atau bergantung pada mekanisme yang tidak familiar justru dapat menghambat pekerjaan. Solusi yang baik adalah sistem yang mudah dipahami, stabil, dan sesuai dengan alur kerja madrasah.
Setelah supervisi 49 guru selesai di MIN 1 Merangin, pekerjaan tidak boleh berhenti pada arsip. Data supervisi dapat menjadi dasar untuk menyusun program peningkatan kompetensi guru, menentukan kebutuhan pendampingan, mengembangkan komunitas belajar, berbagi praktik baik, dan merancang tindak lanjut supervisi berikutnya.
Pada akhirnya, supervisi pembelajaran bukanlah kegiatan untuk mencari kesalahan guru. Supervisi adalah bentuk kepedulian terhadap mutu pendidikan. Kepala madrasah dan supervisor hadir bukan sekadar sebagai pemberi skor, tetapi sebagai mitra profesional yang membantu guru bertumbuh.
Madrasah yang maju bukan madrasah yang tidak memiliki kekurangan. Madrasah yang maju adalah madrasah yang mampu mengenali kekurangannya, menghargai kekuatannya, menggunakan data secara jujur, dan terus melakukan perbaikan. Setelah supervisi selesai, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai: membaca hasil, berdialog dengan guru, menyusun tindak lanjut, dan memastikan perubahan terjadi di ruang kelas.
Supervisi yang baik akhirnya harus menjawab satu pertanyaan sederhana: apakah setelah supervisi pembelajaran menjadi lebih baik? Jika jawabannya ya, maka instrumen, angka, dan rekapitulasi telah menemukan maknanya. Tujuan akhir supervisi bukan menghasilkan tabel yang rapi, melainkan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermutu dan pengalaman belajar yang lebih baik bagi peserta didik.
�Supervisi bukan untuk mencari kesalahan guru, tetapi untuk menemukan kekuatan, memperbaiki kekurangan, dan bersama-sama meningkatkan mutu pembelajaran.�(Red)
(Humas MIN 1 Merangin - IR)
|
172x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...