
KEMENAG, MIN 1 Merangin: Ruang guru MIN 1 Merangin yang biasanya tenang mendadak hidup. Jam 14.00 WIB sampai 17.00 WIB, rapat koordinasi bertajuk Perapian Administrasi ASN, berubah menjadi forum curah pendapat paling dinamis tahun ini. Agenda awalnya sederhana, merapikan arsip, menata absensi, dan menyamakan ritme kerja. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Argumen bersahutan, ide-ide tumpah ruah, dan yang paling mengejutkan, pembahasan pembagian jam pelajaran TA 2026/2027 harus rela ditunda karena waktu habis tersedot untuk satu hal yang lebih hangat dibicarakan, yaitu kegiatan sosial madrasah.
Rapat dibuka tepat waktu oleh Korbid Humas, Bapak Irman, S.Pd.I dengan untaian basmalah yang meneduhkan. Setelah salam dan laporan singkat, tongkat pimpinan langsung diserahkan kepada nahkoda madrasah, Bapak M. Zhaharil Fikri, M.Pd. Dengan gaya khasnya yang tegas tapi bersahabat, bapak Fikri membuka sambutan. Sebelum kita bicara target dan capaian, mari kita rapikan dulu rumah kita. Administrasi adalah wajah madrasah, tegas beliau. Ajakan itu sederhana, tapi mengena: absensi kehadiran, Laporan Kinerja Harian, semua harus diarsipkan rapi, menjadi tanggung jawab pribadi, dan disetorkan satu pintu ke bendahara madrasah, bapak Ujang Mukhlis, S.Pd.I. Tidak ada lagi arsip disimpan di laci pribadi. Semua sepakat, semua mengangguk. Komitmen lahir di menit-menit awal itu.
Suasana awal rapat berjalan tertib, tanpa hambatan, seperti orkestra yang baru mulai mengatur nada. Kepala madrasah menekankan bahwa kerapian arsip bukan soal formalitas, tapi investasi masa depan. Tahun 2027 kita akan menghadapi akreditasi. Kalau arsip kita berantakan, kita yang rugi sendiri. Satu pintu, satu sistem, satu arah, pesan beliau. Para ASN mengerti. Mereka tahu, madrasah hebat tidak hanya diukur dari prestasi siswa, tapi juga dari kerapian berkas yang menopang segala kebijakan. Di titik ini, semua peserta rapat berjanji akan melaksanakan kesepakatan dengan disiplin baru, demi MIN 1 Merangin yang lebih baik dari sebelumnya.
Namun, seperti api kecil yang ditiup angin, suasana berubah ketika agenda kegiatan sosial masuk sesi akhir. Yang semula hanya direncanakan sebagai pembahasan singkat, justru meledak menjadi diskusi paling panjang dan paling hangat. Satu per satu guru mengangkat tangan. Ada yang mengusulkan evaluasi teknis, ada yang menyoroti nominal santunan, ada pula yang rindu suasana yasinan keliling seperti dulu. Adu argumentasi terjadi bukan karena perbedaan, tapi karena rasa peduli yang terlalu besar untuk dipendam. Ruang guru berubah jadi ruang keluarga besar yang sedang membicarakan nasib saudaranya sendiri.
Inti adu argumentasi itu mengerucut pada tiga hal krusial. Pertama, kunjungan saat ada keluarga ASN yang meninggal atau sakit dirawat harus lebih cepat dan lebih masif di respon. Kedua, besaran santunan sosial perlu ditingkatkan agar benar-benar meringankan beban keluarga yang ditimpa musibah. Ketiga, kegiatan yasinan rutin bulanan ke rumah-rumah ASN harus diaktifkan lagi. Bukan sekadar tahlil, tapi penguatan silaturahmi. Kita ASN, tapi kita juga saudara. Kalau saudara sakit kita tidak tengok, lalu siapa lagi, ujar seorang guru senior, ibu Nurlita, S.Pd.I
Bapak Fikri mendengarkan semua masukan dengan kepala dingin. Beliau tidak memotong, tidak mendominasi. Justru beliau menampung, merangkum, lalu menegaskan arah kebijakan baru. Baik, kalau hati kita sudah sepakat, maka sistem harus menyesuaikan. Santunan untuk keluarga ASN yang sakit atau meninggal kita tingkatkan. Respon kunjungan harus cepat. Tidak boleh ada yang merasa sendiri, putus beliau. Ketegasan itu disambut tepuk tangan pelan. Di mata beliau, sosial bukan agenda pelengkap, tapi jantung dari madrasah yang berakhlak.
Keputusan paling emosional lahir di penghujung rapat: yasinan rutin bulanan resmi dihidupkan kembali mulai Juni 2026. Titik startnya istimewa rumah kepala madrasah sendiri. Setelah itu, giliran rumah ASN lain akan dijadwalkan rapi sesuai urutan pensiun atau masa kerja. Skema ini adil, transparan, dan menyentuh. Bayangkan, setiap bulan ada rumah yang kedatangan rombongan doa, ada keluarga yang dikuatkan, ada silaturahmi yang disambung. Dari forum administrasi, lahirlah gerakan spiritual yang membuat MIN 1 Merangin terasa lebih seperti keluarga daripada sekadar tempat kerja.
Rapat berakhir pukul 17.00 WIB dengan beberapa kesepakatan baru yang dicatat rapi oleh Korbid Humas. Semua peserta berdiri, bersalaman, dan pulang dengan hati lebih ringan. Pembagian jam pelajaran memang tertunda, tapi tidak ada yang menyesal. Karena mereka tahu, mengatur jadwal bisa menunggu, tapi menguatkan rasa persaudaraan tidak bisa ditunda. MIN 1 Merangin hari itu membuktikan: rapat administrasi bisa berakhir dengan keputusan sosial, dan itu justru yang paling dikenang.
Dengan semangat baru ini, MIN 1 Merangin melangkah menuju 2027 dengan dua bekal kuat. Bekal pertama: arsip ASN yang tertata rapi, siap menghadapi akreditasi. Bekal kedua: hati ASN yang semakin solid, siap menghadapi suka dan duka bersama. bapak Fikri menutup rapat dengan kalimat yang menjadi pegangan baru seluruh warga: Administrasi kita rapikan untuk dunia, kegiatan sosial kita kuatkan untuk akhirat. Madrasah hebat adalah madrasah yang berkasnya tertib, dan hatinya bersatu. (IR)
|
39x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...