
Merangin, Humas Minsamer : Di MIN 1 Merangin, nama Cikgu Fikri sudah tidak asing lagi di telinga. Sosok familiar itu disematkan untuk Bapak M. Zhaharil Fikri, S.Pd.I, M.Pd, Kepala Madrasah yang kini menjadi nahkoda utama madrasah unggul di Kota Bangko. Di balik sapaan hangat Cikgu yang melekat, tersimpan wibawa seorang pemimpin yang tahu kapan harus bersikap tegas seperti baja, dan kapan harus melunak seperti air yang meneteskan empati. Perpaduan langka inilah yang menjadikan kepemimpinannya bukan sekadar memerintah, tapi menginspirasi seluruh civitas akademika untuk melangkah bersama menuju visi madrasah bermartabat.
Ketegasan Cikgu Fikri bukan hanya lahir dari kedisiplinannya selama ini, melainkan dari cinta yang dalam terhadap marwah madrasah. Saat aturan dilanggar, saat disiplin mulai kendur, suaranya akan terdengar lantang mengingatkan. Namun ketegasan itu tidak pernah menohok sampai melukai. Beliau selalu menempatkan sanksi dan koreksi sebagai jembatan menuju perbaikan, bukan sebagai palu penghukum. Guru-guru merasakan bahwa setiap teguran Cikgu Fikri adalah bentuk sayang, seperti seorang ayah yang menegur anaknya agar tidak tersesat di persimpangan jalan. Karena itu, tak ada rasa takut yang membelenggu, hanya rasa hormat yang tumbuh subur.
Namun di sisi lain, hati nurani Cikgu Fikri selalu menjadi kompas yang menuntun setiap kebijakannya. Di balik meja kerja yang penuh berkas, beliau adalah pendengar yang sabar ketika guru curhat tentang beban hidup, tentang anak yang sakit, atau tentang mimpi yang tertunda. Madrasah baginya bukan gedung berisi aturan kaku, tapi rumah kedua yang harus menghidupi manusia di dalamnya. Empati beliau mengalir nyata dalam bentuk kebijakan yang manusiawi, bantuan saat duka, dan senyum yang tak pernah pelit disapa. Inilah alasan mengapa guru-guru merasa dipahami, bukan sekadar diperintah.
Cikgu Fikri memiliki filosofi kepemimpinan yang sederhana tapi kuat: Guru adalah mitra kerja, bukan bawahan. Kalimat itu bukan jargon, tapi ruh yang menggerakkan setiap rapat dan program di MIN 1 Merangin. Beliau tidak pernah memposisikan dirinya di atas, tapi berjalan sejajar, menggandeng guru untuk bersama-sama merumuskan strategi mencapai visi misi madrasah. Ide-ide guru dihargai, inisiatif dihormati, dan kerja tim menjadi napas utama. Dengan cara ini, beliau berhasil membangun madrasah yang harmonis antara pimpinan dan pelaksana, antara komando dan kolaborasi.
Visi misi MIN 1 Merangin untuk menjadi madrasah unggul, religius, dan berprestasi tidak akan pernah sampai ke garis akhir jika hanya dikerjakan oleh satu orang. Cikgu Fikri paham betul hukum dasar itu. Karena itu beliau mendelegasikan kepercayaan, bukan sekadar tugas. Guru-guru diberi ruang untuk tumbuh, untuk memimpin proyek, untuk berinovasi di kelas. Ketegasan beliau hadir saat target harus dicapai, tapi hati nuraninya muncul saat prosesnya melelahkan. Saya tegas pada hasil, tapi saya manusia pada proses, begitu prinsip yang sering beliau ulang, dan prinsip itu yang membuat guru betah berjuang bersama.
Wibawa Cikgu Fikri juga terpancar saat beliau berhadapan dengan orang tua murid dan masyarakat. Beliau mampu menyampaikan kebijakan dengan tegas tanpa menggurui. Di saat yang sama, beliau mampu meneteskan empati saat mendengar keluh kesah wali murid yang kesulitan biaya atau anak yang butuh perhatian khusus. Kemampuan menimbang antara aturan madrasah dan kondisi kemanusiaan inilah yang membuat beliau dipercaya. Masyarakat melihat MIN 1 Merangin bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sebagai rumah yang dipimpin oleh sosok yang adil dan berhati lembut.
Perjalanan memimpin madrasah di era perubahan yang cepat bukanlah perkara mudah. Tantangan digital, tuntutan akreditasi, hingga dinamika sosial bisa membuat pemimpin kehilangan arah. Tapi Cikgu Fikri memilih jalan tengah: memegang teguh prinsip tanpa kehilangan rasa. Beliau tegas menolak kompromi pada mutu dan integritas, namun hatinya selalu terbuka untuk memaafkan, membimbing, dan mengangkat kembali siapa saja yang terjatuh. Karena itu, meski badai datang, bahtera MIN 1 Merangin tetap melaju stabil, karena nakhodanya tahu kapan harus mengencangkan layar dan kapan harus menenangkan awak kapal.
Hari ini, ketika orang menyebut MIN 1 Merangin, publik tidak hanya mengingat gedungnya yang megah atau prestasinya yang gemilang. Mereka juga mengingat Cikgu Fikri, sosok yang berhasil membuktikan bahwa pemimpin hebat adalah yang bisa tegas tanpa kehilangan hati, dan berhati nurani tanpa kehilangan wibawa. Di tangan beliau, madrasah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tapi tempat menumbuhkan karakter. Dan di hati guru-guru, Cikgu Fikri bukan hanya atasan, tapi guru bagi para guru, pemimpin yang mengajar dengan keteladanan bahwa kepemimpinan sejati adalah melayani dengan cinta dan memimpin dengan keadilan. (Raden)
Redaktur / Editor : Irman
Jurnalis : Raden Daman.
|
23x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...