
Merangin, Humas MIN 1 Merangin: Pagi ini, halaman MIN 1 Merangin tak seperti biasanya. Langkah pelan dan hela napas panjang. Hari ini, 27 April 2026, kami melepas nahkoda yang sudah enam tahun menuntun bahtera ini melewati badai dan gelombang Tinggi.
Enam tahun, Bapak Saidi Muzakkir, S.Pd.I membimbing kami. Bukanlah waktu yang singkat. Enam kali kita menyambut tahun ajaran baru, enam kali kita menata rapor, enam tahun kita berdiri di bawah bendera yang sama saat upacara Senin. Enam tahun itu kita lalui bersama, menapaki onak dan duri yang tak pernah Bapak keluhkan, meski sepatu Bapak sering terkena tanah hitam dan lumpur, karena ikut memeriksa got atau parit madrasah yang tersumbat.
Kami ingat benar, tawa Bapak saat ruang kelas ada yang bocor dan Bapak selalu datang mencari solusi. Tanpa gengsi, tanpa menunggu tukang, Bapak ajak kami angkat tanah, belajar nukang bersama, buat taman, buka saluran got, sambil berseloroh bahwa pemimpin itu harus siap kotor jika ingin madrasah bersih dan indah. Saat itu kami belajar, dimana wibawa tidak diukur dari jas, baju yang rapi dan bersih, tapi dari telapak tangan yang rela berkorban dan bekerja demi kemajuan madrasah.
Duka pun pernah kita bagi. Ketika pandemi covid 2019 memaksa ruang kelas sepi, Bapak selalu mengajak kami memantau, bahkan terwujud kran cuci tangan dfi setiap depan kelas masing-masing. Engkau ajak guru dan pegawai memastikan semua siswa sehat, membawa masker dan bersemangat. Kala itu KBM daring pun terlaksana dengan baik, suara Bapak tegar, berkata bahwa madrasah tidak boleh menyerah pada keadaan.
Tantangan datang bertubi. Dana terbatas, butuh bangunan, tuntutan kurikulum baru, laporan yang tak pernah tidur. Tapi Bapak selalu punya cara. Bapak selalu duduk bersama mengajak mencari solusi. Menyusun RKM, Bapak ikut mengecat pagar, menyemen, saat gotong royong, Bapak bersama kami dorong gerobak pasir, ketika pembuatan pendopo pojok baca, rehab ruang belajar, menukang bersama di belakang gedung bertingkat. Ibu guru pun ikut membantu dengan sumbangannya, dengan kue kue yang di infaknya, kesemuanya kita lewati penuh kesabaran dengan satu tujuan madrasah yang maju dan unggul. Dedikasi Bapak tidak ditulis di spanduk, tapi terpahat di setiap dinding yang kini lebih kokoh.
Bapak adalah obor di kala kelam. Saat kami ragu menghadapi asesor Akreditasi, Bapak pasang badan paling depan. Bapak periksa dokumen hingga larut, Bapak temani guru yang grogi simulasi. Kita bersama tim ke jambi, kesemuanya bentuk tanggung jawab bapak atas madrasah ini. Dan ketika piagam nilai A Unggul itu tiba, Bapak tidak naik podium sendiri. Bapak gandeng kami semua, sebab Bapak bilang prestasi ini milik bersama, milik tukang kebun, tukang bersih madrasah, milik guru, milik pegawai, milik kantin, serta milik keluarga besar MIN 1 Merangin.
Bapak teladan kami. Bukan karena pidato Bapak yang keras dan tegas, bukan karena pidato bapak yang panjang, tapi karena Bapak hafal siapa di antara kami yang anaknya sedang sakit, siapa yang motornya rusak, siapa yang lagi dapat musibah. Bapak selalu hadir membawa solusi tanpa menghakimi.Kepemimpinan Bapak adalah tentang memahami, bukan memerintah.
Pembenahan fisik madrasah adalah cita-cita yang Bapak cicil pelan-pelan. Dari lapangan yang dulu berbatu menjadi rata untuk upacara, sudah di conblok, dari WC yang dulu sedikit, pelan tapi pasti selalu bertambah. Pustaka yang belum ada, menjadi tempat istirahat guru dan siswa membaca. UKS juga terobosan yang bapak lakukan, Alhamdullillah, kita pernah meraih sekolah sehat nomor satu tingkat provinsi jambi. Semua itu Bapak mulai dengan doa, lalu Bapak lanjutkan dengan kerja.
Kami tahu Bapak lelah. Tapi cahayamu selalu bersinar, Pak. Bahkan saat Bapak sakit, pesan WhatsApp Bapak tetap masuk: "Bagaimana ujian anak kelas VI? Pastikan berjalan lancar." Begitulah Bapak, menaruh madrasah di detak jantung sendiri.
Hari ini langkah itu harus berpisah. Amanah baru memanggil Bapak ke MAN 3 Merangin. Kami ikhlas, meski dada sesak. Kami bangga, meski mata basah. Sebab kami tahu, di sana ada anak-anak aliyah yang akan merasakan hangatnya kepemimpinan yang sama, yang akan melihat teladan yang sama ketika kepala madrasahnya tak malu memegang cangkul dan palu.
Enam tahun Bapak menanam. Kami yang menuai keteduhan. Bapak ajarkan bahwa madrasah bukan gedung, tapi rasa memiliki. Bapak ajarkan bahwa pemimpin bukan menara, tapi pondasi yang rela terinjak agar semua bisa berdiri.
Kelak jika MAN 3 Merangin bersinar, kami akan menepuk dada. Itu guru kami. Itu kepala kami yang dulu. Namun jangan lupakan kami, Pak. Sebab di setiap sudut Minsamer ada jejak Bapak. Di tiang bendera yang Bapak luruskan, di pot bunga yang Bapak tanam.
Selamat jalan, Sang Obor. Terbanglah ke langit yang lebih luas, tapi biarkan cahayamu tetap menyinari kami dari jauh. Kami janji menjaga rumah ini, menjaga nilai A Unggul itu, menjaga kejujuran yang Bapak semai.
Di hati kami, sosokmu tak pernah pensiun. Engkau tetap kepala kami, tetap teladan kami, tetap Bapak kami. Semoga di tempat tugas yang baru, semangatmu tetap tegar, langkahmu tetap kuat, dan semoga Allah jaga setiap niat baikmu. Kami di sini, melepas dengan doa, mengenang dengan cinta. (IR)
|
167x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...